Sabtu, 29 Agustus 2009

MERENUNG SEJENAK

Menjadi seorang ibu itu tidaklah mudah menurut saya, ya meskipun saya belum menjadi ibu-ibu dan belum pernah mengalami menjadi seorang ibu sih. Cuman saya melihat bagaimana ibu saya, dan ibu-ibu yang lainnya. Mereka sangat rela melakukan apa saja demi membahagiakan anaknya. Meskipun setiap hari anaknya mencaci maki, berlaku kasar, membentak-bentak hingga beliau menangis, namun beliau tidak pernah benci ataupun merasa dendam pada anaknya itu. Beliau malah terus mendoakan agar suatu saat anaknya sadar dan bisa menjadi anak yang baik serta berguna di lingkungannya. Beliau selalu berdoa agar anak-anaknya dapat menjadi anak yang berguna, mandiri dan bisa sukses baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Hal ini saya alami sendiri, melihat begitu gigihnya ibu memperjuangkan kebahagiaan anak-anaknya. Padahal, dirinya sendiri pun belum tentu bahagia. Masa kecil beliau hidup susah, setelah dewasa dan sukses pun beliau tidak menikmatinya sendiri. Beliau mengorbankan kebahagiaannya untuk anak-anaknya. Ayah saya yang waktu kecil makan daging pun harus dibagi dengan saudara-saudaranya yang sangat banyak, setelah sekarang alhamdulillah mampu membeli daging, malahan tidak boleh makan daging karena kolesterol. Saya pun sampai berpikir, betapa tulusnya hati mereka. Meskipun begitu mereka ( ayah dan ibu ) tidak pernah mengeluh. Ya, mungkin sesekali kalau anak-anaknya dianggap sudah kelewatan mereka suka mengeluh. Hal itu wajar menurut saya, karena bagaimanapun mereka juga manusia yang terkadang merasakan jenuh dan bosan.

Ingatkah kalian tentang pepatah yang mengatakan “ surga di telapak kaki ibu” ????
Sudah tidak asing lagi tentunya bagi kita mendengar kalimat tersebut. Bahkan menurut saya, hal itu sangat kurang. Bayangkan saja perjuangan ibu kita dari sejak kita belum lahir sampai dewasa. Saat mendengar kabar dari dokter bahwa mereka ( ayah dan ibu ) akan segera mempunyai anak, mereka sangat senang dan bersuka cita. Mereka selalu memberi perawatan terbaik dan menjaga janin tersebut agar jangan sampai ada yang salah dengannya. Ayah yang selalu ingin mendengar bagaimana suara si bayi dengan cara menempelkan telinganya di perut ibu, ayah yang selalu bekerja keras agar dapat membeli kebutuhan si bayi baik susu ataupun barang-barang lainnya. Jasa mereka sangat tidak pantas untuk kita lupakan begitu saja. Saya jadi teringat ayah saya yang semasa saya kecil badannya kurus kering karena uang gajinya habis buat beli susu saya. Kalau saya ingat hal itu, saya merasa sangat berdosa sekali jika membuat mereka sakit hati.
Namun pada kenyataannya, saat kita dewasa, jasa-jasa yang mereka lakukan pada kita tidak kita ingat. Kita dengan enaknya membentak, bilang bahwa nasihat-nasihat yang mereka berikan kolot, ketinggalan jaman. Hingga nanti kalau kita beranjak dewasa baru kita bisa berpikir bahwa apa yang selama ini dikatakan orang tua kita adalah benar. Mereka bisa berkata seperti itu karena mereka telah berpengalaman. Telah banyak makan asam garam.
Jadi, teman-teman semuanya. Janganlah sekali-kali kita mengabaikan kedua orangtua kita. Hargai dan hormati mereka selalu. Karena tanpa adanya mereka, kita tidak bisa bertahan.

Minggu, 23 Agustus 2009

THE BEST FOR ME

kemaren malem sangat mengingatkan gue akan satu hal. emang banyak banget yang bisa kita ambil hikmah dari suatu kejadian. gue mulai percaya kalau kita akan selalu mendapatkan yang terbaik, dan Allah pasti akan selalu memberi yang terbaik buat hambanya yang berusaha sabar dalam menghadapi hidup dan ujian yang diberikan. malem minggu kemaren waktu sahur on the road, gue ketemu lagi ama "seseorang" yang udah cukup lama lah gak ketemu. gue udah gak berhubungan lagi sejak terakhir ama dia karena ya biasanya laki-laki lah, dia selingkuh. dan bego nya kenapa coba dia selingkuh ama sahabat gue. kalo dibilang sakit hati, ya jelas banget gue sakit hati. tapi gimana lagi, waktu itu dengan pikiran-pikiran gue yang masih sangat kekanak-kanakan, gue bener-bener ngusilin dia. gue gak mao kalau dia tuh bahagia diatas penderitaan gue yang dia buat tanpa dosa. ya tapi sekarang gue sadar, kalau inget-inget itu kok rasanya gak penting banget n pengen ketawa.

dan malem itu, rasanya pikiran gue langsung flash back ke 3 tahun yang lalu. semua kenangan itu muncul lagi. rasanya campur-campur. sebel, sedih, kesel, seneng (tapi gak banget sih setelah apa yang dia lakuin ke gue ).
tapi tiba-tiba gue berpikir mungkin emang jalan gue bukan ama dia, dan Tuhan selalu ngasih gue yang terbaik. gue dikasih cowok yang lebih baik dari dia, ya setidaknya gak suka selingkuh maybe. meskipun banyak kekurangannya dibanding "seseorang" itu, tapi dia bisa ngajarin aku gimana jadi mandiri,gak childish. dia sabar banget ngehadepin segala cobaan. dia tuh orang yang sabar, gak meledak-ledak. yang mantan sifatnya pemalu, yang sekarang malu-maluin. hehhehe

tapi malem itu aku baru sadar gimana rasanya, apa artinya, dan mengambil maknanya. semoga kedepan kita bisa jadi yang terbaik.

;;

Template by:
Free Blog Templates